RENDAH HATI

MERENDAHKAN HATI DAN MENUNDUKKAN DIRI

Disunting dari kiriman grup Al Haq oleh Ny. Suprih Kusumo.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Baitullah

Rumah Allah

Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, : “Dan jika seseorang menghina dan mencelamu dengan suatu hal yang ada pada dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan hal yang ada pada dirinya dan biarkanlah (jangan kau balas) dia. Akibat perbuatan (dosa)-nya menjadi tanggungannya dan pahalanya bagimu. Dan janganlah engkau mencela sesuatu pun” (HR Imam Ahmad).
Ketahuilah bahwa peribadatan kepada-Nya dan ikhlasnya peribadatan kepada-Nya tidak akan sempurna, kecuali dengan mengikuti ketaatan kepada-Nya di dalam perintah dan larangan-Nya. Ini semua tidak terlaksana, kecuali dengan “merendahkan diri dan menundukkan diri” kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, melakukan kewajiban, yaitu menyembah kepada-Nya dan menjauhkan dari syirik dan menentang perintah serta larangan-Nya.
Barangsiapa bersifat dengan penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah di dalam pokok dan cabang hukum agama, maka dialah orang yang merendahkan hati dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan barangsiapa menentangnya atau mempunyai sikap yang sebaliknya, dialah orang yang sombong, tidak tunduk untuk menyembah kepada-Nya. Dalam sebuah ayat mengatakan, : وكل من كان إحجام المستثمرين عن عبادته والتباهي، ثم شاء الله جمع كل منهم له“Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya” (An-Nisa’ ayat 172).
Nerakalah yang telah disediakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai kediaman bagi orang yang sombong kepada-Nya, orang yang merasa congkak untuk menghamba kepada-Nya, maka ketundukan kepada Allah merupakan dasar dan jiwa keberagamaan dan kesombongan dapat dikatakan sebagai penentang agama. Untuk lebih jelasnya, camkan sebuah hadits shahih, : “Tidaklah akan masuk syurga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji bunga sawi dari kesombongan”. Juga Rosulullah shlallaahu ‘alahi wa sallam yang merupakan hadits qudsi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, : “Kebesaran adalah kain panjang-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Maka barang siapa berebut dengan diri-Ku untuk salah satu dari keduanya, maka Aku lemparkan dia ke dalam neraka”.
Maka barang siapa tidak tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak taat kepada Rosul-Nya, dialah orang yang sombong. Rosulullah sendiri sudah memberikan penafsiran mengenai kesombongan dan kerendahan hati yakni dengan penafsiran yang sangat jelas, yang dapat menghilangkan keruwetan dan menjelaskan duduk permasalahannya dimana ketika ditanya mengenai sombong, Rosulullah menjawab, : “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menghina manusia”.
Hal tersebut dapat diartikan bahwa rendah hati adalah menerima kebenaran, mengikutinya dan tidak menghina manusia. Barangsiapa yang mau menerima kebenaran, mengikutinya dan tidak menghina siapapun, dan merendahkan diri untuk menghamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itulah ketawadluan kepada Allah dan manusia. Yang demikian itulah orang yang melakukan kewajibannya kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala dan manusia. Dan barang siapa yang menolak kebenaran, tidak mau mengikutinya dan menghina manusia, meremehkan mereka dengan hati, perbuatan dan ucapannya, dialah orang yang sombong.
Coba teliti dirimu sendiri, apakah kamu sudah bebas dari permasalahan ini? Kalian pun harus berjuang dan memerangi nafsumu untuk berada di atas kebenaran dan bersikap dengan menciptakan kerendahan hati kepada Allah dan manusia agar supaya kalian menjadi orang yang berbahagia. Dan waspadalah jangan sampai kalian menjadi orang yang merugi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, : وكان من فضل الله لطيف هل تتقدم نحوهم. كنت قد تم قاسية مرة أخرى أن يكون وقحا، لكان قد نأى هم أنفسهم من حواليه “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran ayat 159). وانت حقا حرف كبير الفاضلة “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qolam ayat 4).
Merupakan suatu kewajiban bagi orang mukmin untuk mengikuti budi pekerti Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dengan merendahkan diri kepada manusia dan bersikap lembut kepada mereka, merasa senang atau suka dengan kebaikan untuk mereka, memberikan nasehat kepada mereka dalam semua keadaan dan informasi, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda, tidak menghina orang yang kurang akal atau kemuliaannya atau orang yang miskin.
Orang-orang yang sombong akan mendapatkan kerugian dari pahala yang disediakan Allah kepada orang yang tawadlu’. Mereka hanya akan mendapatkan kesialan dan siksa. Mereka juga akan rugi terhadap kecintaan manusia sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka, karena secara alamiah manusia akan lebih suka kepada orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong. Siapapun yang menampakkan suka dan cintanya kepada mereka, maka itu merupakan sebuah kepalsuan dan kemunafikan, karena bersifat temporer akan segera hilang dan musnah dalam waktu yang singkat.
Betapa bodoh dan dungunya orang-orang yang sombong itu. Dengan apa yang menjadikan sombong dan dengan amal apa yang menjadikan mereka congkak? Siapapun yang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang faqir, yang tidak mampu memberikan manfaat ataupun kerugian kepada dirinya sendiri, yang serba kekurangan dari segala dimensi, lantas dengan apa yang menjadikan dia sombong? Iblis ditolak dan dikutuk karena kesombongan dan kecongkakannya, sementara Adam dikasihi karena kerendahan dan ketundukannya kepada Tuhannya.
Sungguh berbahagialah orang-orang yang rendah hati di dunia dan di akherat. Dan kembalilah orang-orang sombong dengan kehinaan dan kerugian. Dalam sebuah ayat dikatakan bahwa, : وبدوره لا وجهك من البشر (للفخر)، ولا تمشي في الأرض من خلال الوقاحة. الله لا يحب الذين يفخرون اعتزازهم “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman ayat 17-18).
Demikian yang dapat disampaikan, semoga sifat sombong yang kita miliki ini segera berganti dengan sifat rendah hati….amiin. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh (MM dipublish ulang 16122010)

Tentang apainitu

pemerhati umum
Pos ini dipublikasikan di Agama Islam dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s