TEGAKAN AQIDAH

Disunting dari kiriman grup oleh Syaiful Falah.

Kaum muslimin rahimakumullah,

demi senja

senja hari

Aqidah Islam atau iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, Al Quran dan kitab-kitab-Nya, Nabi Muhammad saw. dan para rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada taqdir Allah SWT yang baik maupun yang buruk adalah perkara paling berharga bagi umat Islam. Aqidah itu adalah harga mati yang harus dipertahankan oleh umat Islam sampai mati. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran 102).

Allah SWT juga memberikan warning kepada umat Islam akan bahaya peperangan yang mengancam fisik mereka yang bertujuan untuk memurtadkan mereka. Allah SWT berfirman:
…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah 217).

Kaum muslimin rahimakumullah,
Ayat-ayat di atas memberikan pengertian kepada kita semua bahwa menjaga iman atau aqidah Islam sampai mati adalah wajib bagi umat Islam dan perkara hidup mati yang tidak boleh diabaikan sekecil apapun dan dalam tempo sekejap pun.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Islam sebagai dinullah yang sempurna memberikan petunjuk tentang tatacara penjagaan aqidah. Pertama, Islam memberikan pemahaman yang komplit tentang aqidah. Al Quran memberikan penjelasan yang rinci tentang penciptaan manusia, disamping penciptaan alam semesta dan kehidupan. Juga peta jalan hidup manusia, sejak di dalam kandungan, hidup di dunia, kematian, hingga hari kiamat, perjalanan di padang mahsyar, perhitungan amal baik dan buruk, maupun gambaran kehidupan di jannah dan segala kenikmatan di dalamnya serta kesengsaraan manusia di neraka yang digambarkan bahwa di dalamnya manusia tidak mati dan juga tidak hidup. Yang ada hanya adzab, adzab, dan adzab yang menyengsarakan.

Oleh karena itu, setiap muslim disunnahkan untuk membaca Al Quran setiap hari (siang dan malam) dan berusaha memahami makna dari ayat-ayat yang dibacanya agar senantiasa segar dalam pikiran mereka gambaran kehidupan yang sebenarnya, baik di dunia maupun di akhirat. Tentu bacaan Al Quran itu akan menjadi lebih hidup manakala setiap muslim yang membaca Al Quran menambah pengetahuan mereka dengan hadits maupun tafsir-tafsir Al Quran yang lebih memperjelas makna kandungan lafazh-lafazh Al Quran yang dibacanya setiap hari tersebut.

Kedua, Islam mensyariatkan berbagai bentuk ibadah seperti doa, dzikir, sholat, shaum, haji, jihad, dan ibadah-ibadah khusus lainnya adalah untuk meningkatkan makrifat dan pendekatan diri (taqarrub) umat Islam kepada Allah SWT. Pada hakitnya setiap pelaksanaan kewajiban yang telah Allah fardlukan kepada umat Islam adalah membuat aqidah umat ini lebih kuat dan hubungan mereka lebih dekat kepada Allah SWT. Dalam suatu hadits qudsi Rasulullah saw. bersabda: Allah SWT berfirman: “Tidaklah mendekatkan diri kepadaku hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang kufardlukan kepadanya… ” (Sahih Bukhari Juz 8/131).

Ketiga, adanya nasihat dan amar makruf nahi munkar yang diberikan oleh muslim yang lain baik secara pribadi maupun komunitas. Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Ad Diin (agama Islam) itu nasihat (3 kali)”. Lalu para sahabat bertanya: Untuk siapa ya rasulullah? Rasulullah saw. Menjawab: Untuk Allah, kitab-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin umumnya (Sunan Tirmidzi Juz 4/324).

Nasihat untuk Allah maknanya nasihat itu disampaikan ikhlas karena Allah dan untuk Rasul maknanya nasihat itu disampaikan karena beriman kepada Rasulullah dan sebagai wujud ketaatan kepada Rasulullah saw. Sedangkan untuk umat Islam dan para pemimpinnya maknanya adalah bahwa nasihat itu memang diberikan kepada mereka sebagai wujud ukhuwah Islamiyyah.

Keempat, adanya tindakan yang efektif dari negara. Bila ada orang yang murtad, maka negara akan mengambil tindakan mengajaknya bertobat, kembali memeluk aqidah Islam. Untuk itu dia diberi penjelasan tentang bahayanya perbuatan murtad itu bagi yang bersangkutan, yakni bila mati dalam keadaan murtad alias mati kafir, maka akan hapus amalannya dunia akhirat dan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Lalu dia diberi tempo tertentu, misalnya 3 hari, untuk merenungkan dan mempertimbangkannya. Bila setelah jatuh tempo dia menyatakan kembali kepada Islam, maka dia langsung dibebaskan tanpa dikenakan hukuman apapun. Namun bila dia mengatakan tetap di dalam langkah murtadnya, maka dia dihukum mati berdasarkan sabda rasulullah saw. : “Siapa yang mengganti agama (Islam)nya maka bunuhlah” (Sahih Bukhari Juz 4/75).

Kaum muslimin rahimakumullah,
Dengan empat poin di atas kiranya aqidah umat islam bisa terjaga, baik oleh individunya sendiri yang senantiasa membaca Al Quran dan As Sunnah serta taat ekpada syariat Allah SWT dalam ibadah khusus maupun umum, nasihat dari kaum muslim yang lain, maupun tindakan efektif oleh negara yang punya kepedulian menjaga aqidah umat Islam.

Selain itu, perlu dijelaskan oleh para umat hal-hal apa sajakah yang bisa membuat seorang muslim menjadi murtad? Misalnya saja, Musailamah dan pengikutnya yang bersyahadat bahwa Musailamah adalah rasulullah telah diperingatkan, diminta tobat, hingga diperangi oleh pasukan negara kaum muslimin pasca wafatnya baginda Rasulullah saw. Khalifah Abu Bakar r.a. yang menggantikan Rasulullah saw. mengirim surat nasihat dan permintaan tobat kepada Musailamah. Surat tersebut dibawa oleh pasukan militer yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Karena tidak mau bertobat dan melawan, maka Musailamah dan bala tentaranya diperangi. Sebagian mati dalam keadaan murtad, sebagian lagi bertobat kembali ke pangkuan islam. Kiranya hari ini pemerintah harus meneladani langkah Khalifah Abu Bakar r.a. untuk menyelesaikan kasus Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya.

Demikian juga MUI harus pro aktif untuk memberikan fatwa kepada seseorang atau suatu kelompok masyarakat yang sesat aqidahnya dan secara terbuka mengumumkan kesesatan dan kemurtadannya. Sebut saja, salah seorang pengurus SETARA Institute di dalam konferensi pers di Jakarta (24/1) mengatakan bahwa lembaganya bukanlah lembaga orang-orang beriman! Maka jika yang bersangkutan beragama Islam, apakah pernyataan tersebut telah jatuh murtad? Maka MUI harus segera mengeluarkan fatwanya. Bila murtad, maka negara mengambil langkah efektif untuk menghentikan aktivis LSM tersebut sehingga tidak mengumbar kemurtadannya.

Dan negara menugaskan ulama untuk meyakinkan dia akan perbuatan yang telah menggelincirkan dirinya dari aqidah Islam dan memintanya segera bertobat. Jika menolak,maka negara harus menerapkan hukuman mati sesuai hadits Rasul agar tidak ada lagi yang berani sembarangan dalam masalah agama. Wallahua’lam!

Baarakallahu lii walakum

QADA DAN QADAR : ……………………………

Disunting dari kiriman grup oleh Gunawan Arief.

Assalamualaikum…

Segala puji tak berujung mutlak hanya milik Allah, yang maha mengatur segala mahlukNya lagi menjamin rezki semua mahluk sehingga segala sesuatunya butuh dan berhajat kepada Allah.

Allah menciptakan dimensi ruang dan waktu, tidak terikat dan tidak bertempat pada suatu masa atau zaman, karena waktupun bagi Allah adalah mahluk yang tidak bisa berbuat apa-apa atas kehendak Allah.

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. maka semua mahluk adalah fakir dan hanya Allah saja yang Maha Kaya.

Allah adalah Raja diatas segala raja. “Yang meninggikan langit tanpa tiang” (Ar Ra’du 2) .yang Maha Kekal sebelum segala sesuatunya ada dan tetap kekal setelah segala sesuatunya binasa..

Shalawat dan Salam kepada Baginda Rasulullah SAW, Kekasih Allah juga para ahlul bait dan para sahabat2 beliau yang kita sebagai ummatnya, saudara seIman mereka di masa sekarang ini belum pernah melihatnya tapi tetap merasakan kehadirannya dan senantiasa merindukan perjumpaan dengannya.

Saudaraku seiman, Sebelum Allah menciptakan segala sesuatunya maka Allah menciptakan Qolam dan Qolam inilah yang menuliskan segala sesuatu yang akan terjadi di dunia yang Allah (melalui Qolam) menuliskan dalam kitab Lauh Mahfudz.

Sebuah daun yang jatuh, jumlah pasir di bumi, tetesan hujan, hingga bergesernya sebuah batu didasar laut sekalipun atas izin dan kehendak Allah, bahkan diamnya dari sebuah mahluk sekalipun atas izin dan kehendak Allah.

Arti Qada
Qadha’, menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.
Asal (makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menen-tukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyelesaikannya.

Arti Qadar, menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk tanpa terkecuali, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya.

Allah maha mengetahui apa yang terdapat pada hati manusia dan walaupun seorang mahluk melahirkan apa yang ada di dalam hatinya atau pun menyembunyikannya, niscaya Allah swt akan membuat perhitungan dengan perbuatan tersebut.

Kaitan Antara Qadha’ dan Qadar
1. Qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, Qadha’ dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha’.

2. Dikatakan pula sebaliknya, bahwa qadha’ ialah ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan sejak azali. Sedangkan qadar ialah terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya.

3. Dikatakan, jika keduanya berhimpun, maka keduanya berbeda, di mana masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian.

Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang, tidak ada satupun mahluk yang Allah ciptakan dengan jalan hidup yang bertujuan mendapat siksa api neraka, Allah memberikan kita pilihan hidup yang ingin kita lalui melalui Qada dan memberikan Qadar pada akhirannya.

Seperti halnya sebuah kalkulator yang manusia buat, ketika kita menekan angka 1, diikuti tanda + dan menekan angka 1, maka hasilnya adalah 2. kita menekan kedua-duanya angka 1 tapi hasilnya adalah 2.

Seperti halnya hidup kita, kita memilih tujuan hidup kita dan Allah memperlihatkan kepada kita hasil dari pilihan hidup yang telah kita pilih.

Dengan banyaknya ujian yang Allah datangkan untuk menguji kesetiaan kita kepada Allah maka Allah mengajarkan kita melalui perantara kekasih dan qalamNya untuk senantiasa diberikan petunjuk 5 kali dalam sehari.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus” Al Fatihah : 6.

“Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus” Al Baqarah : 108.

“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” Al Baqarah : 142.

Rasulullah pun melarang kita untuk pasrah pada keadaan
“Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di
surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya
Rasulullah, apakah kita tidak menyerah saja” (Dalam suatu riwayat disebutkan “Apakah kita tidak menyerah saja pada catatan kita dan meninggalkan amal)”.

Beliau menjawab: “Jangan, beramallah, setiap orang dipermudah (menuju takdirnya)”. (Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beramallah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya”).

Kemudian beliau membaca ayat : “Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kesulitan”.

Takdir manusia Pasti mati tetapi umur yang panjang bergantung kepada amal manusia dan menghubungkan silaturahim.

Rezeqi manusia sudah Allah jamin, tapi jalan dari bertambahnya rezeqi tergantung dari jalan yang kita pilih.

Qada dan Qadar adalah sesuatu yang mutlak harus kita imani sebagai seorang muslim, karena dalam Qada dan Qadar ini Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingatkan kita bahwa kita ini adalah mahluk yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin dan kehendakNya, Qada dan Qadar juga mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah putus asa dari Rahmat Allah.

Segala yang berlaku adalah dari Allah semuanya. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa akan tetapi Allah Taala jualah yang Maha Berkuasa yang menuntukan segala sesuatu itu.

Saudaraku seiman, saya tidak pernah bermaksud menulis artikel ini untuk mendapat pujian apalagi berkeinginan untuk mengajari saudara2ku seiman, karena saya yakin pengetahuan saya masih sangat sedikit dibandingkan saudara2ku yang ada di group ini.

Menulis artikel-artikel ini saya hanya memohon semoga Allah menguatkan iman saya dan bisa menggugurkan kewajiban saya dalam meyampaikan Ayat-ayat Allah dan Hadits Rasulullah.

Mohon maaf jika terdapat kekurangan pada artikel ini karena ada benarnya datangnya dari Allah dan adapun kesalahan yang terdapat pada artikel ini datangnya dari kebodohan dan kekurangan dari ilmu saya pribadi.

..Subhanallah wabihamdi AsyaduAllahilaha Illallah Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

KUFUR NIKMAT : ………………….

Disunting dari kiriman grup oleh Abu Fauzan.

Di antara bentuk kufur nikmat adalah menyandarkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘azza wajalla. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu. Berikut ini pembahasannya yang merupakan kelanjutan dari kajian Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah Bab Ma Ja-a Fil Istisqa’ bil Anwa’ yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah pada acara LKIBA Ma’had As-Salafy Jember, hari Ahad 1 Shafar 1431 / 17 Januari 2010.

ولهما عن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه ، قال : « صلى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الصبح بالحديبية على إثر سماء كانت من الليل ، فلما انصرف أقبل على الناس فقال : ” هل تدرون ماذا قال ربكم ” ؟ . قالوا : الله ورسوله أعلم ، قال : ” قال : أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر ، فأما من قال : مطرنا بفضل الله ورحمته ، فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب ، وأما من قال : مطرنا بنوء كذا وكذا ، فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب. » .

Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami ketika shalat shubuh di Hudaibiyyah setelah turunnya hujan tadi malam. Tatkala selesai salam beliau menghadap ke arah para shahabat kemudian bersabda: Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan Rabb kalian? Para shahabat mengatakan: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi bersabda: Allah berfirman: Pada pagi hari ini ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir, adapun orang-orang yang mengatakan: Kami diberi hujan dengan sebab keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, maka dia telah berman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Dan adapun orang yang mengatakan: Kami diberikan hujan dengan sebab bintang ini dan bintang itu, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.

Penjelasan beberapa lafazh hadits:

ولهما عن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه

Maksudnya adalah hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih keduanya dari shahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu. Dhamir (kata ganti) lahuma (yang maknanya bagi keduanya) yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim. Penggunaan kata ganti dalam konteks seperti ini sering digunakan oleh para ulama.

صلى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الصبح

Yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami ketika shalat shubuh.

بالحديبية

Kata ini dalam bahasa Arab bermakna nama sebuah sumur atau terkadang digunakan juga untuk penyebutan sebuah tempat tertentu. Kenyataanya yang lebih dikenal dan sering digunakan adalah untuk penyebutan sebuah tempat tertentu.

على إثر سماء كانت من الليل

Maksudnya adalah setelah turun hujan malam harinya.

فلما انصرف أقبل على الناس

Yaitu tatkala selesai salam, beliau menghadap ke arah para shahabatnya yang saat itu ikut shalat bersama beliau.

فقال : ” هل تدرون ماذا قال ربكم ” ؟

Kemudian belau bersabda: “Apakah kalian tahu apa yang telah difirmankan Rabb kalian?” Perkataan ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Beliau ingin memberikan faidah ilmiah kepada umatnya dengan apa yang telah beliau ketahui. Bersemangat untuk memberikan faidah kepada saudaranya merupakan perilaku yang patut dicontoh. Tanamkan pada diri kita bagaimana kita bisa memberikan faidah kepada saudara kita, mungkin di antara kita ada yang tidak mampu memberikan faidah yang sifatnya duniawi (materi) kepada saudaranya, maka sebagai gantinya kita upayakan apa yang kita dapatkan dari majelis ilmu berupa faidah ilmiyyah untuk disampaikan kepada saudara kita yang belum mendapatkan (mengetahuinya).

Dan thariqah (metode) pengajaran yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah thariqah tanya jawab. Metode seperti ini menarik sekali dan merupakan thariqah yang jitu dalam pengajaran serta lebih bermanfaat daripada mengajar tetapi tidak pernah ada tanya jawab padanya.

قالوا : الله ورسوله أعلم

Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Jawaban para shahabat yang demikian menunjukkan tingginya kemuliaan adab para shahabat, karena ketika mereka tidak mengetahui suatu perkara agama, maka permasalahan tersebut dikembalikan kepada ahlinya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mulianya adab para shahabat ini tidak lepas dari didikan langsung dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

قال : أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر ، فأما من قال : مطرنا بفضل الله ورحمته ، فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب ، وأما من قال : مطرنا بنوء كذا وكذا ، فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب.

Allah subhanahu wata’ala berfirman: Pada pagi hari ini, ada di antara hamba-hamba-Ku yang beriman dan adapula yang kafir. Adapun orang-orang yang mengatakan: ‘Telah turun hujan tadi malam kepada kita karena keutamaan dan rahmat Allah’, maka merekalah yang telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Sedangkan orang yang telah mengatakan: ‘Telah turun hujan tadi malam disebabkan bintang yang demikian dan demikian’, maka dia telah kafir kepada-Ku dan telah beriman kepada bintang-bintang.

Penjelasan secara global hadits ini

Dalam hadits ini, shahabat Zaid bin Khalid memberitakan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau selesai mengimami shalat fajar bersama para shahabatnya di Hudaibiyah beliau ingin memberikan faidah dan pelajaran kepada para shahabat, maka beliau menanyakan: ‘Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan Rabb kalian?’ Maka para shahabat yang mereka sangat baik adabnya, ketika tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan Rasulullah tersebut, mereka menyerahkan ilmu tentang permasalahan ini kepada ahlinya. Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa Allah subhanahu wata’la telah mewahyukan kepada beliau bahwasanya manusia itu terbagi menjadi dua setelah turunnya hujan, yaitu orang yang bersyukur (beriman) dan orang yang kufur. Barang siapa yang menisbahkan (menyandarkan) turunnya hujan kepada Allah, maka dia telah bersyukur (beriman) dan barang siapa yang menisbahkan hujan kepada bintang-bintang, berarti dia telah kufur kepada Allah. Dan yang mengimani bahwa bintang itu sendiri yang menurunkan hujan, maka dia telah kafir. Dan adapun yang menisbahkan hujan itu kepada bintang dan dia tetap meyakini bahwa Allah subhanahu wata’ala yang menurunkan hujan, maka ini masuk ke dalam syirik ashgar kerena dia telah menjadikan sesuatu sebagai sebab yang padahal sesuatu itu bukan sebagai sebab secara syar’i maupun kauni (hukum alam).

Faidah yang terkandung dalam hadits ini:

1. Disunnahkan bagi imam shalat untuk menoleh dan menghadapkan wajahnya ke arah makmum ketika selesai salam.

2. Disunnahkan untuk membuat rindu atau penasaran kepada ilmu dengan thariqah (metode) tanya jawab, sebagaimana hal ini telah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebetulnya Rasulullah mampu untuk menyampaikan langsung pokok permasalahan yang akan menjadi objek pembicaraan, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyengaja tidak melakukanya untuk menciptakan rasa penasaran para shahabat agar mereka lebih perhatian ketika menerima ilmu. Banyak juga hadits yang menyebutkan thariqah seperti ini.

3. Menetapkan sifat berbicara bagi Allah. Berbicaranya Allah tentu berbeda dengan bicaranya makhluq. Bicaranya Allah subhanahu wata’ala sesuai dengan kemuliaan-Nya.

4. Gambaran adab yang baik bagi orang yang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahui, yaitu dengan mengatakan Allahu a’lam atau yang semisal dengannya.

5. Haramnya kufur terhadap nikmat Allah.

6. Penetepan sifat Rahmah bagi Allah ta’ala, yaitu sifat kasih sayang. Makhluk mempunyai sifat kasih saying, tapi berbeda dengan kasih sayang Allah.

7. Menisbahkan (menyandarkan) nikmat kepada selain Allah adalah salah satu bentuk kufur nikmat kepada-Nya.

8. Haramnya ucapan seseorang: ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan bintang itu.’

Tentang apainitu

pemerhati umum
Pos ini dipublikasikan di Agama Islam dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s