GHULUW

Disunting dari kiriman grupoleh Abu Fauzan.

rona

rona pelangi

Pada pembahasan kali ini hanya mengacu kepada akibat dari sikap ghuluw (ekstrim) yang menyebabkan pelakunya terjatuh ke dalam kesyirikan atau perkara-perkara sebagai wasilah (perantara) menuju kesyirikan, karena jenis-jenis ghuluw terhadap mereka sangat banyak sekali. Bentuk-bentuk ghuluw yang terjadi dan bisa di cermati sendiri oleh kaum muslimin, diantaranya :
1. Menganggap bahwa beribadah seperti sholat atau berdo’a dihadapan gambar, patung, kuburan orang sholih (kyai, haba’ib atau yang lainnya) lebih mendatangkan rasa khusu’ dan khudhu’ kepada Allah. Ini merupakan bentuk ibadah yang bid’ah, munkar dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya, sekaligus dia telah melanggar larangan Nabi membuat gambar atau patung, beliau berkata :
إِنَّ أََشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ المُصَوِّرُوْنَ
“Sesungguhnya adzab yang paling pedih pada hari kiamat nanti adalah para tukang gambar”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
dan juga menentang perkataan Rasulllah:
وَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قَبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا القَبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Dan sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mereka dahulu menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid-masjid, maka ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang dari perbuatan seperti itu”. (HR. Muslim)
Dan setiap tempat yang digunakan untuk sholat, maka dinamakan sebagai masjid, walaupun tidak ada bangunannya, sebagaimana Rasulullah berkata :
جُعِلَتْ لي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا
“Telah dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan untuk bersuci”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
2.Berkeyakinan bahwa berdo’a kepada Allah sambil bertawasul dengan orang sholih yang sudah mati (kyai, habaib dan semisalnya) lebih diterima oleh Allah. Hal ini juga merupakan perkara yang bathil dan haram, karena tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi, bahkan Umar, ketika di jamannya ditimpa paceklik, beliau tidak bertawasul kepada Nabi, karena beliau sudah wafat, namun Umar meminta kepada paman Nabi untuk berdo’a kepada Allah .(Fatawa Arkanul Islam lisy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 182)
3.Berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menerima amalan seorang hamba kecuali jika menghadap Allah melalui wasilah (perantara) orang-orang sholih. Ini merupakan keyakinan yang batil dan haram karena sebagai jembatan menuju kesyirikan, padahal Allah berfirman :
وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّ قَرِيْبٌ, أُجِيْبَ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَان
“Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku amat dekat dan Aku mengabulkan orang yang bedo’a jika dia berdo’a kepada-Aku”. (QS. Al Baqarah: 186)
Bahkan Allah mengolok-olok orang-orang yang lalai lagi bodoh ketika menjadikan sebagian hamba-Nya sebagai wasilah, padahal orang-orang sholih tersebut butuh pada wasilah berupa ketaatan (amalan sholih) kepada-Nya dan tidak ada cara lain yang bisa mendekatkan diri kepada Allah :
أولئك الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أيُّهُمْ أَقْرَبُ وَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهُ
“Mereka orang-orang yang diseru juga mencari wasilah menuju kepada Robb-Nya! siapa yang lebih dekat (kepada Allah- red) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya”. (QS. Al Isra’: 56)
4. Meyakini bahwa seorang wali atau orang sholh mengetahui ilmu ghoib atau mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi. Ini pun juga merupakan aqidah yang batil dan juga sebagai wasilah (jembatan) yang menuju lembah kesyirikan. Rasulullah imam para rasul, tidaklah mengetahui perkara yang ghoib atau perkara yang akan terjadi apalagi mereka yang bukan termasuk dari kalangan para Nabi. Allah berfirman :
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَ لاَ ضَرًّا إِ لآَّ مَا شَاءَ اللهُ وَ لَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسَتَكْثَرْتُ مَنَ الْخَيْرِ وِ لاَ مَسَّنِيَ السُّوءُ
“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfatan pada diriku dan tidak pula mampu menolak kemudhorotan kecuali yang di kehendaki oleh Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhoratan”. (QS. Al A’raf: 188)
5. Meyakini bahwa wali atau orang sholih (kyai, habaib dan semisalnya) mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau mampu menjawab do’anya orang yang berdo’a kepada mereka ketika masih hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yang nyata dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah dan para nabi dan rasul. وَ لاَ تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَ لاَ يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِيْنَ
“Maka janganlah kamu berdo’a (beribadah) selain dari Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan pula memberi mudhorot padamu, kalau sekiranya kamu kerjakan sungguh kamu termasuk orang-orang yang dholim”. (QS. Yunus: 106)
dan juga Allah berfirman :
وَ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ مَنْ لاِ يَسْتَجِيْبُوا لَهُ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَ هُمْ عَنْ دُعَاءِهِمْ غَافِلُوْنَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat memperkenakan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”.
Ini hanya sebagiab kecil dan masih banyak lagi perbuatan dhohir mu’amalah) atau i’tiqodiyyah (amalan batin) yang melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang sholih.

TANYA-JAWAB
Tanya : Bagaimana rihlah atau safar hanya dalam rangka ziaroh ke kubur Nabi Muhammad, para wali dan sunan?
Jawab : Hal itu tidak boleh, karena Rasulullah berkata :
لاَ تَشُدُّ الرِّحَالَ إِلاَّ إلى ثَلاَثَة مَسَاجِدَ، المَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِي هذا وَ الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Janganlah kalian berkeinginan untuk safar kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsho”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
Nabi tidaklah melarang kecuali ada hikmahnya, yaitu sebagai bentuk saddudz dzari’ah (tindakan preventif) supaya tidak terjatuh dalam perbuatan ghuluw dan ini menunjukkan kasih sayang beliau kepada umat Islam. Dan sebaliknya jika kaum muslimin melanggar anjuran beliau, maka pasti akan terjatuh kedalam fitnah. Kalau para pembaca mencermati apa yang dilakukan para peziaroh ke kuburan Nabi atau wali-wali, bukan hanya berdo’a dan istighotsah saja bahkan sampai ruku’ dan sujud semata-mata untuk ahli kubur dalam keadaan khusu’ dan khudhu’ (penghinaan diri) yang tidak bisa dihadirkan kondisi seperti itu ketika beribadah di masjid-masjid Allah. Wallahul Musta’an
Wallahu ‘A’lam bish Showab

Tentang apainitu

pemerhati umum
Pos ini dipublikasikan di Agama Islam dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s