Deradikalisasi = degradasi mental

label setan

Menyimak upaya rezim yg sedang berkuasa telah membentuk sebuah badan atau lembaga yg mengemban tugas meluncurkan program intervensi berupa sistem deradikalisasi konteks pemahaman agama Islam ke publik domestik dengan sasaran komunitas yg hendak dicapai adalah : kalangan mahasiswa di kampus-kampus , pondok pesantren , masjid dan ormas Islam di masyarakat dalam negri yg telah dimulai dari beberapa tahun lalu terbukti telah banyak menimbulkan berbagai tanggapan publik yg kurang positif mengingat program tersebut bersifat kontroversial dan tidak proporsional.
Bagaimana tidak kontroversial karena pada dasarnya program deradikalisasi tersebut merupakan gerakan pendangkalan pemahaman agama Islam dan lebih tragis lagi hal tersebut merupakan gerakan sekularisasi dan pembusukan mental spiritual pemeluk agama Islam di negeri ini secara luas.
Apalagi selaku person pelaksana tugas sosialisasi program deradikalisasi tersebut adalah orang-orang yg tidak memiliki kapasitas kompetensi dari sebuah badan bentukan baru rezim pemerintah yg sedang berkuasa atas tekanan asing untuk mengemban sebuah visi standart asing yg kufar dalam misi global pemberantasan terorisme yg sejatinya adalah suatu proyek zionisme global yg digerakan oleh hegemoni dan konspirasi negara israel , usa dan blok barat untuk merusak dan menghancurkan umat Islam di dunia.
Tujuan jangka panjang dari program deradikalisasi tersebut sudah jelas, yakni untuk mencapai generasi bangsa yg punya visi sekuler, dangkal dan lemah dalam hal pemahaman akidah agama Islam sehingga meninggalkan agama di belakang punggung, karena akan lebih berwawasan materialistik sesuai tujuan yg diharapkan.
Hal ini ironi dan kontradiktif terhadap program lain yg sedang diluncurkan oleh pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi, yg akar permasalahannya secara umum adalah masalah kualitas mental dan moral bangsa yg telah terdegradasi ke level paling rendah, dimana visi moral berkiblat kepada faham materialisme, kapitalistik dan feodalistik.
Maka deradikalisasi tersebut pada hakekatnya hanya dapat difahami sebagai suatu gerakan penetrasi asing (zionis barat) ke dalam negeri ini untuk pembusukan akidah umat muslim dan program pemurtadan umat Islam belaka yg dijalankan oleh antek rezim boneka amerika di negeri ini.
Tahapan gradual penetrasi asing tersebut sudah tampak jelas dan dimulai dari momentum berurutan dari awal dengan kronologi sebagai berikut : paling awal adalah pemboman Bali th 2002 , kemudian disusul dengan pembentukan partai demokrat, pembentukan densus 88, pembentukan undang-undang anti terorisme, pembentukan lembaga kerja sama di bidang pendidikan dan konsultasi penyidikan kasus terorisme, pembentukan bnpt, dan sekarang yg terbaru adalah rencana pembangunan gedung kedubes usa bertingkat 10 lantai dengan fungsi ganda juga sebagai markas pasukan navy seal usa di Jakarta.
Sungguh langkah-langkah yg telah dilakukan tersebut sangat sistematis , terorganisir dan terencana sangat rapi dan matang dengan kalkulasi politik yg sangat cermat.
Khusus untuk langkah pembangunan gedung kedubes usa di Jakarta yg rencananya bertingkat 10 lantai tersebut, menunjukkan sebuah tahapan yg dilaksanakan seiring (simultan) dengan program pemindahan pasukan amerika serikat dari kwasan konflik di Timur Tengah dan Asia Selatan ke kawasan baru di Asia Tenggara dan penciptaan wilayah konflik baru, yakni penindasan dan pembantaian umat muslim Rohingya di negara bagian Rakhine Myanmar pada bulan Juli 2012, yg terindikasi kuat digerakkan oleh agen intelegent Inggris (M-16) bekerja sama dengan CIA dan Mossad dengan pemerintah junta militer setempat (Myanmar).
Momentum pembantaian umat muslim Rohingya di Myanmar tersebut pararel dalam hal waktu dengan pemberian hadiah pemenang Nobel perdamaian asal Myanmar Aung San Suu Kyi di London yg dilanjutkan dengan tour Aung San Suu Kyi ke negara-negara Eropa, tanpa sedikitpun pernyataan yg menyinggung kejadian pembantaian umat muslim Rohingya yg sedang terjadi di Myanmar, sungguh ini sebuah ironi yg sangat paradoks dengan konteks Nobel perdamaian tersebut.
Dalam situasi krisis ekonomi yg sedang melanda amerika serikat dan kawasan Eropa sekarang ini rupanya Barat konsisten untuk menghancurkan dunia muslim secara keseluruhan, dan sekarang telah berkembang dengan skenario membenturkan umat muslim dan umat budha di kawasan Asia Tenggara, yg secara ekonomi memiliki status ekonomi mapan.
Paradigma yg terjadi di Myanmar yakni dengan membenturkan umat muslim dan umat budha dapat difahami bahwa sesungguhnya amerika serikat sedang mengincar dan membidik untuk menciptakan konfrontasi yg akhirnya melibatkan China sebagai kekuatan ekonomi besar dunia pada khususnya dan Asia Timur (Jepang, Korea) pada umumnya.
Dari fakta-fakta konflik tersebut diatas jelaslah bahwa blok Barat (USA, Inggris dan israel) mau mengambil untung dari situasi perang di seluruh kawasan dunia demi kebangkitan mereka dari krisis ekonomi yg sedang dialami sekarang ini, terutama hegemoni politik, ekonomi, militer dan budaya.
Sedang Indonesia sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia pelan tapi pasti telah berhasil di intervensi secara gradual di segala bidang , mulai dari sektor pertahanan keamanan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, penegakan hukum dan politik.Akankah blok Barat berhasil menguasai dunia lagi dan menegakan hegemoninya lagi di tahun 2012 dan selanjutnya ?!
Wallahu a’lam bish shawab.

Tentang apainitu

pemerhati umum
Pos ini dipublikasikan di POLITIK. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s